Perilaku merupakan hasil dari segala macam pengalaman
secara instansi manusia dengan lingkungan yang berwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan.
Perilaku makan adalah cara seseorang berfikir, berpengetahuan dan berpandangan
tentang makanan. Apa yang ada dalam
perasaan dan pandangan itu dinyatakan dalam bentuk tindakan makan dan memilih
makanan. Jika keadaan itu terus menerus berulang maka tindakan tersebut akan
menjadi kebiasaan makan.
Usia remaja merupakan
usia peralihan dari anak-anak menjadi dewasa. Pada usia ini fisik seseorang
terus berkembang, demikian pula aspek sosial maupun psikologisnya. Perubahan
ini membuat seorang remaja banyak ragam gaya hidup, perilaku, tidak terkecuali
pengalaman dalam menentukan makan apa yang dikonsumsi yang sangat berpengaruh
terhadap keadaan gizi seorang remaja.
Ketika memasuki masa
remaja, khususnya masa pubertas, remaja sangat peduli atas pertambahan berat
badan mereka. Terjadi perubahan fisiologis tubuh yang kadangkala menggangu.
Biasanya hal ini lebih sering dialami oleh remaja putri daripada remaja putra.
Bagi remaja putri mereka mengalami pertambahan jumlah jaringan lemak sehingga
mereka akan mudah gemuk apabila mengonsumsi makanan yang berkalori tinggi
Adapun perilaku makan
(dalam hal pola makan) yang ditunjukkan remaja adalah mengonsumsi makanan fast food (cepat saji). Kini makanan fast food telah menjadi bagian dari perilaku
sebagian anak sekolah dan remaja di luar rumah diberbagai kota. Jenis makanan
siap santap (fast food)yang berasal dari negara barat seperti KFC, hamburger,
pizza dan berbagai jenis makanan berupa kripik (junk food) sering dianggap
sebagai lambang kehidupan modern oleh para remaja. Padahal fast food dan junk food mempunyai kandungan
tinggi kalori, karbohidrat dan lemak, jika makanan fast food dan
junk food dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan obesitas.
Kebiasaan makan sangat
dipengaruhi gaya hidup. Faktor-faktor yang merupakan input bagi terbentuknya
gaya hidup keluarga adalah penghasilan,
pendidikan, lingkungan hidup kota atau desa, susunan keluarga, pekerjaan, suku
bangsa, kepercayaan dan agama, pendapat tentang kesehatan, pendidikan gizi,
produksi pangan dan ditribusi, serta sosial politik.
Kebiasaan pola makan
yang salah ini menimbulkan dampak pada fisik dan psikis remaja yang sebenarnya
mereka selalu ingin memperhatika penampilan fisik mereka.
Santrock (2006)
menjelaskan bahwa perubahan fisik yang sangat signifikan pada remaja
menimbulkan dampak psikologis yang tidak diinginkan. Salah satu aspek
psikilogis dari perubahan fisik dimasa pubertas remaja menjadi sangat
memperhatikan tubuh dibanding aspek lain. Remaja sering merasa gelisah dengan
penampilan fisik mereka. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Hurlock (1980)
bahwa masa remaja adalah masa yang penuh perhatian terhadap bentuk fisik dan
penampilan. Hal ini terjadi agar remaja memiliki daya tarik fisik.
Selanjutnya, Cross dan
Cross (dalam Hurlock, 2004) menerangkan daya tarik fisik sangat penting bagi
remaja karena daya tarik fisik akan mempengaruhi dukungan sosial, popularitas
dan teman yang didapatkan oleh remaja. Remaja yang memiliki daya tarik fisik akan
lebih disukai dan disenangi oleh teman-temannya. Kesadaran akan adanya reaksi
sosial terhadap penampilandan daya tarik fisik menyebabkan remaja prihatin akan
pertumbuhan tubuhnya yang kurang ideal. Hurlock (1980) berpendapat bahwa berat
yang berlebihan merupakan salah satu bentuk tubuh yang tidak ideal. Memiliki
berat badan yang berlebihan mengganggu sebagian besar remaja dan menjadi sumber
keprihatinan selama bertahun-tahun awal masa remaja.
Gangguan psikososial
seperti rasa rendah diri, depresif dan menarik
diri dari lingkungan. Hal ini karena anak obesitas sering menjadi korban bahan
olok-olokan teman main dan teman sekolah. Dapat pula karena ketidakmampuan untuk
melaksanakan suatu tugas atau kegiatan terutama olahraga akibat adanya hambatan
pergerakan oleh obesitasnya
Dihadapkan pada
obesitas, tidak jarang seorang remaja bereaksi secara berlebihan. Tidak jarang
pula mereka menjadi frustrasi karena meskipun sudah melakukan diet ketat dan
mengkonsumsi ramuan atau obat-obatan penurun berat badan, ternyata bobot tubuh
tidak kunjung susut. Tentunya ini akan mengganggu kesehatan seorang remaja
dimana mereka bisa sakit karena tidak mau makan.
Survei Kesehatan dan
Status Gizi Nasional di Amerika Serikat (NHANES III) tahun 1988-1994
memperlihatkan bahwa kira-kira 30% remaja dengan obesitas mengalami sindroma
metabolik. Sindroma tersebut sangat erat hubungannya dengan peningkatan risiko
terhadap PJK dan penyakit metabolik seperti DM tipe 2 dan aterosklerosis.
Gabungan dari obesitas, hipertensi, dan dislipi demia secara bersama sama akan
meningkatkan keparahan lesi aterosklerotik pada usia muda. Individu dengan
obesitas sentral lebih berisiko untuk terjadi sindrom metabolik dibanding dengan
obesitas perifer. Risiko kejadian sindroma metabolik lebih tinggi pada anak yang
mempunyai orang tua dengan sindroma metabolik.
Menurut Damayanti
(2002) mengatakan bahwa remaja yang obesitas cenderung mengalami peningkatan
tekanan darah, denyut jantung serta keluaran jantung dibandingkan remaja dengan berat badan yang normal.
Hipertensi ditemukan pada 20-30% anak obesitas. Diabetes melitus tipe 2 jarang
ditemukan pada anak obesitas tetapi hiperinsulinemia dan intoleransi glukosa
hampir selalu ditemukan pada morbid obese.
Obesitas menyebabkan
kerentanan terhadap kelainan kulit kususnya di daerahnlipatan. Kelainan ini
termasuk ruam panas, intertrigo, dermatitis moniliasis, dan acanthosis (kondisi
yang merupakan tanda hipersensivitas insulin0. Sebagai tambahan jerawat juga
dapat muncul dan dapat memperburuk pesepsi diri sang remaja.
Peningkatan tekanan
intracranial ringan pada obesitas disebabkan oleh gangguan jantung dan paru
yang mengakibatkan penumpukan kadar karbondioksida. Gejalanya meliputi sakit
kepala, papil edema, kelumpuhan saraf cranial VI, diplopia, kehilangan lapangan
perifer dan iritabilitas.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar