Rabu, 22 Januari 2014

Remaja dan Obesitas


Perilaku  merupakan hasil dari segala macam pengalaman secara instansi manusia dengan lingkungan yang berwujud  dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan. Perilaku makan adalah cara seseorang berfikir, berpengetahuan dan berpandangan tentang makanan. Apa yang  ada dalam perasaan dan pandangan itu dinyatakan dalam bentuk tindakan makan dan memilih makanan. Jika keadaan itu terus menerus berulang maka tindakan tersebut akan menjadi kebiasaan makan.
Usia remaja merupakan usia peralihan dari anak-anak menjadi dewasa. Pada usia ini fisik seseorang terus berkembang, demikian pula aspek sosial maupun psikologisnya. Perubahan ini membuat seorang remaja banyak ragam gaya hidup, perilaku, tidak terkecuali pengalaman dalam menentukan makan apa yang dikonsumsi yang sangat berpengaruh terhadap keadaan gizi seorang remaja.
Ketika memasuki masa remaja, khususnya masa pubertas, remaja sangat peduli atas pertambahan berat badan mereka. Terjadi perubahan fisiologis tubuh yang kadangkala menggangu. Biasanya hal ini lebih sering dialami oleh remaja putri daripada remaja putra. Bagi remaja putri mereka mengalami pertambahan jumlah jaringan lemak sehingga mereka akan mudah gemuk apabila mengonsumsi makanan yang berkalori tinggi
Adapun perilaku makan (dalam hal pola makan) yang ditunjukkan remaja adalah mengonsumsi makanan  fast food (cepat saji). Kini makanan  fast food telah menjadi bagian dari perilaku sebagian anak sekolah dan remaja di luar rumah diberbagai kota. Jenis makanan siap santap (fast food)yang berasal dari negara barat seperti KFC, hamburger, pizza dan berbagai jenis makanan berupa kripik (junk food) sering dianggap sebagai lambang kehidupan modern oleh para remaja. Padahal  fast food dan junk food mempunyai kandungan tinggi kalori, karbohidrat dan lemak, jika makanan  fast food dan  junk food dikonsumsi dalam jangka panjang dapat menyebabkan obesitas.
Kebiasaan makan sangat dipengaruhi gaya hidup. Faktor-faktor yang merupakan input bagi terbentuknya gaya hidup keluarga  adalah penghasilan, pendidikan, lingkungan hidup kota atau desa, susunan keluarga, pekerjaan, suku bangsa, kepercayaan dan agama, pendapat tentang kesehatan, pendidikan gizi, produksi pangan dan ditribusi, serta sosial politik.
Kebiasaan pola makan yang salah ini menimbulkan dampak pada fisik dan psikis remaja yang sebenarnya mereka selalu ingin memperhatika penampilan fisik mereka.
Santrock (2006) menjelaskan bahwa perubahan fisik yang sangat signifikan pada remaja menimbulkan dampak psikologis yang tidak diinginkan. Salah satu aspek psikilogis dari perubahan fisik dimasa pubertas remaja menjadi sangat memperhatikan tubuh dibanding aspek lain. Remaja sering merasa gelisah dengan penampilan fisik mereka. Hal yang sama juga diungkapkan oleh Hurlock (1980) bahwa masa remaja adalah masa yang penuh perhatian terhadap bentuk fisik dan penampilan. Hal ini terjadi agar remaja memiliki daya tarik fisik.
Selanjutnya, Cross dan Cross (dalam Hurlock, 2004) menerangkan daya tarik fisik sangat penting bagi remaja karena daya tarik fisik akan mempengaruhi dukungan sosial, popularitas dan teman yang didapatkan oleh remaja. Remaja yang memiliki daya tarik fisik akan lebih disukai dan disenangi oleh teman-temannya. Kesadaran akan adanya reaksi sosial terhadap penampilandan daya tarik fisik menyebabkan remaja prihatin akan pertumbuhan tubuhnya yang kurang ideal. Hurlock (1980) berpendapat bahwa berat yang berlebihan merupakan salah satu bentuk tubuh yang tidak ideal. Memiliki berat badan yang berlebihan mengganggu sebagian besar remaja dan menjadi sumber keprihatinan selama bertahun-tahun awal masa remaja.
Gangguan psikososial seperti rasa rendah diri, depresif dan  menarik diri dari lingkungan. Hal ini karena anak obesitas sering menjadi korban bahan olok-olokan teman main dan teman sekolah. Dapat pula karena ketidakmampuan untuk melaksanakan suatu tugas atau kegiatan terutama olahraga akibat adanya hambatan pergerakan oleh obesitasnya
Dihadapkan pada obesitas, tidak jarang seorang remaja bereaksi secara berlebihan. Tidak jarang pula mereka menjadi frustrasi karena meskipun sudah melakukan diet ketat dan mengkonsumsi ramuan atau obat-obatan penurun berat badan, ternyata bobot tubuh tidak kunjung susut. Tentunya ini akan mengganggu kesehatan seorang remaja dimana mereka bisa sakit karena tidak mau makan.
Survei Kesehatan dan Status Gizi Nasional di Amerika Serikat (NHANES III) tahun 1988-1994 memperlihatkan bahwa kira-kira 30% remaja dengan obesitas mengalami sindroma metabolik. Sindroma tersebut sangat erat hubungannya dengan peningkatan risiko terhadap PJK dan penyakit metabolik seperti DM tipe 2 dan aterosklerosis. Gabungan dari obesitas, hipertensi, dan dislipi demia secara bersama sama akan meningkatkan keparahan lesi aterosklerotik pada usia muda. Individu dengan obesitas sentral lebih berisiko untuk terjadi sindrom metabolik dibanding dengan obesitas perifer. Risiko kejadian sindroma metabolik lebih tinggi pada anak yang mempunyai orang tua dengan sindroma metabolik.
Menurut Damayanti (2002) mengatakan bahwa remaja yang obesitas cenderung mengalami peningkatan tekanan darah, denyut jantung serta keluaran jantung dibandingkan  remaja dengan berat badan yang normal. Hipertensi ditemukan pada 20-30% anak obesitas. Diabetes melitus tipe 2 jarang ditemukan pada anak obesitas tetapi hiperinsulinemia dan intoleransi glukosa hampir selalu ditemukan pada morbid obese.
Obesitas menyebabkan kerentanan terhadap kelainan kulit kususnya di daerahnlipatan. Kelainan ini termasuk ruam panas, intertrigo, dermatitis moniliasis, dan acanthosis (kondisi yang merupakan tanda hipersensivitas insulin0. Sebagai tambahan jerawat juga dapat muncul dan dapat memperburuk pesepsi diri sang remaja.
Peningkatan tekanan intracranial ringan pada obesitas disebabkan oleh gangguan jantung dan paru yang mengakibatkan penumpukan kadar karbondioksida. Gejalanya meliputi sakit kepala, papil edema, kelumpuhan saraf cranial VI, diplopia, kehilangan lapangan perifer dan iritabilitas.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar