Rabu, 27 Agustus 2014

Antara Patuh dan Tak Berani Melawan


Rasanya bingung harus bagaimana?
Ketika suatu keinginan yang sangat diharapkan datang dengan tiba-tiba tetapi terbebani oleh restu orang tua, tentunya akan membuat kita berpikir dua kali.
Ya, ajakan teman-temanku untuk berlibur pastinya sangat menggiurkan. Gimana tidak? liburan yang Alhamdulillahnya lumayan panjang ini tentunya  memacu nafsuku untuk berkelana sebagai seorang remaja. Apalagi melihat teman-temankuyang lain, yang banyak berlibur membuat hatiku sedikit iri *ops*
Liburan. Siapa sih yang tak ingin liburan? Menikmati memandangan ciptaan Allah yang menakjubkan, menghilangkan kepenatan kehidupan kuliah, menjalin persahabatan dengan teman-teman. tentunya mengasyikkan.
Sudah sejak dulu aku ingin sekali liburan, tatapi selalu tak ada sarana yang mendukung. Bahkan deretan tempat wisata mungkin kalau ditulis banyak sekali yang ingin aku singgahi.
Tetapi semua keinginan itu mungkin tinggal wacana. Antara berani dan takut menanyakan hal liburan ke orang tua membuatku memutuskan niat. Bagaiamana pun juga ridho Allah adalah ridho orang tua. Mungkin sekali bilang tidak, kita harus mematuhinya. Toh kita tak tau apa yang terjadi entar.
Liburan tinggalah wacana
Aku yakin dibalik ini semua pasti ada hikmah yang tersembunyi :)

Apakah itu Cinta


Saat kita sedang sendiri, kesepian, dalam masalah, membutuhkan teman, lantas teringat dengan seseorang, berharap banyak dia akan membantu, atau setidaknya mengusir sedikit gundah-gulana. Apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Tetapi kalau demikian, bukankah cinta jadi tidak lebih dari seperangkat obat? Alat medis penyembuh?

Selesai malasahnya, saat kita kembali semangat, sembuh, maka persis seperti botol-botol obat, seseorang itu bisa segera disingkirkan. Sementara, dong? Temporer? Juga tentu saja, kecuali kita selalu sakit berkepanjangan, dan mulai mengalami ketergantungan dengan seseorang tersebut. Jika demikian maka cinta jadi mirip nikotin, candu.

Saat kita ingin selalu bersamanya, selalu ingin didekatnya, selalu ingin melihat wajahnya, senyumnya, nyengirnya, bahkan gerakan tangan, gesture, bla-bl-bla. Ingin mendengar suaranya (meski suaranya fals), tawanya (walau tawanya cempreng); apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Bagaimana mungkin bukan cinta?

Tetapi kalau hanya demikian, maka bawakan saja imitasi seseorang itu ke rumah, taruh seperti koleksi patung, jika ingin mendengar tawanya, stel sedemikian rupa biar dia tertawa, ingin melihat dia bicara, stel agar dia bicara. Bukankah hari ini sudah banyak teknologi imitasi seperti ini?

Apakah itu akan berlangsung sementara? Boleh jadi, karena persis seperti kolektor yang memiliki koleksi benda antik, seberapapun berharganya, cepat atau lambat rasa bosan akan tiba. Bisa sih disiasati dengan jarang-jarang melihat koleksi tersebut, jarang-jarang bertemu biar terus kangen dan rindu, aduh, kalau demikian, maka cinta jadi sesuatu yang kontradiktif, bukankah tadi dibilang ingin selalu bersamanya.

Saat kita terpesona melihatnya, kagum menatapnya, begitu hebat, keren, terlihat berbeda, cantik, gagah, dan bla-bla-bla. Apakah itu disebut cinta? Bisa jadi. Tapi jika demikian cinta tak lebih seperti pengidolaan, keterpesonaan. Jika demikian, solusinya mudah, pasang saja posternya besar-besar di kamar. Jika kangen, tatap sambil tersenyum. Taruh foto-fotonya di mana-mana. Selesai urusannya.

Apakah ini sementara? Temporer? Tentu saja. Saat idola baru yang lebih keren tiba, saat sosok baru yang lebih hebat datang, maka idola lama akan tersingkirkan. Jika demikian, maka cinta tak ubahnya seperti lagu pop, cepat datang cepat pergi. Persis seperti anggota boyband di tahun 80-an, basi di tahun 90-an, dan anggota boyband di tahun 2012, dijamin basi banget di tahun 2030.

Saat kita tergila-gila, selalu ingat dengannya, tidak bisa tidur, tidak bisa makan, berpikir jangan-jangan kita kehilangan akal sehat, apakah itu disebut cinta? Tentu saja. Tapi jika demikian cinta, maka ia tak lebih dari simptom penyakit psikis? Sama persis seperti penjahat yang jadi buronan, juga tidak bisa tidur, susah makan, dan terkadang berpikir kenapa ia bisa kehilangan akal sehat menjadi penjahat. Sementara? Temporer? Tentu saja. Waktu selalu bisa mengubur seluruh kesedihan.

Hampir kebanyakan orang akan bilang: “Saya tidak pernah tahu kapan perasaan itu datang. Tiba-tiba sudah hadirlah ia di hati.” Ada sih yg jelas-jelas mengaku kalau dia cinta pada pandangan pertama; sekali lihat, langsung berdentum hatinya. Tapi di luar itu, meskipun benar-benar pada pandangan pertama, kita kebanyakan tidak tahu kapan detik, menit, jam, atau harinya kapan semua mulai bersemi. Semua tiba-tiba sudah terasa something happen in my heart.

Terlepas dari tidak tahunya kita kapan perasaan itu muncul, kabar baiknya kita semua hampir bisa menjelaskan muasal kenapanya. Ada yg jatuh cinta karena seseorang itu perhatian, seseorang itu cantik, seseorang itu dewasa, rasa kagum, membutuhkan, senang bersamanya, nyambung, senasib, dan seterusnya, dan seterusnya. Dan di antara definisi kenapa tersebut, ada yang segera tahu persis kalau itu sungguh cinta, ada juga yang berkutat begitu lama memilah-milah, mencoba mencari penjelasan yg akan membuatnya nyaman dan yakin, ada juga yang dalam situasi terus-menerus justeru tdk tahu atau tidak menyadarinya kalau semua itu cinta.

Cinta sungguh memiliki begitu banyak pintu untuk datang. Kebanyakan dari “mata”, mungkin 90%. Sisanya dari “telinga”. Dari bacaan (membaca sesuatu darinya), dari kebersamaan, dari cerita orang lain. Dari mana saja. Lantas otak akan mengolahnya, mendefinisikannya menjadi: sayang, kagum, terpesona, dekat, cantik, ganteng, cerdas, baik, lucu, dan seterusnya. Kemudian hati akan menjadi pabrik terakhir yang menentukan: “ya” atau “tidak”. Selesai? Tidak juga, masih ada ruang buat prinsip-prinsip, pemahaman hidup, pengalaman (diri sendiri atau belajar dari pengalaman orang lain) untuk menilai apakah akan menerima kesimpulan hati atau tidak.

Ini proses cinta kebanyakan. Tetapi orang-orang yang paham, maka pintu datangnya cinta bukan sekadar dari mata atau tampilan fisik saja. Proses mereka terbalik, mulai dari memiliki prinsip-prinsip, pemahaman-pemahaman yang baik, lantas hati dan otak akan mengolahnya, baru terakhir mata, telinga dan panca indera menjadi simbolisasi cinta tersebut.

Tetapi apapun pintu dan prosesnya, jika akhirnya semua fase itu terlewati masih ada satu hal penting lainnya yg menghadang. Yaitu kesementaraan. Temporer. Apakah cinta itu perasaan yang bersifat temporer? Kabar buruknya ya. Jangan berdebat soal ini.

Sehebat apapun cinta kita, pasti takluk oleh waktu. Tapi kabar baiknya, meski ia bersifat sementara, kita selalu memiliki kesempatan untuk membuatnya ‘abadi’, everlasting. Bagaimana caranya? Dengan pemahaman-pemahaman yang baik. Ada rambu-rambu yang harus dipatuhi, ada nilai-nilai yang harus dihormati. Pasangan yang memiliki hal tersebut, mereka bisa menjadikan perasaan cinta utuh semuanya. Maka abadilah perasaan itu.

Terakhir, saat kita selalu termotivasi untuk terus berbuat baik hari demi hari, memberikan semangat positif, terus memperbaiki diri setiap kali mengingatnya, apakah itu juga disebut cinta? Yaps, inilah hakikat cinta. Saat perasaan itu menjadi energi kebaikan. Dan itu tidak berarti kita harus selalu menyampaikan kalimat itu. Orang-orang yang menyimpan perasaannya, menjaga kehormatan hatinya, dan menjadikan perasaan tersebut sebagai energi memperbaiki diri, maka cinta menjelma menjadi banyak kebaikan.

Apakah itu sementara? Memang sementara, nah, semangat untuk terus memperbaiki diri karena cinta tersebut akan menjadi jaminan keabadiannya. Percayalah, bagi orang-orang yang memiliki pemahaman yang baik, cinta selalu datang di saat yang tepat, momen yang tepat, dan orang yang tepat, semoga semua orang memiliki kesempatan merasakannya

-Tere Liye-

Rabu, 06 Agustus 2014

Sahabat


Sedikit-sedikit aku mulai mengerti mengenai makna persahabatan sesungguhnya. Berkat teman-teman  KBB aku mulai merasakan seperti apa rasanya punya sahabat yang sesungguhnya. Tapi bukan berarti sebelumnya aku gak punya sahabat. Tapi disini aku punya lebih J
KBB sendiri adalah kepanjangan dari Keluarga Besar Banjarsari yang merupakan gabungan kos cewek dan kos cowok. Hahaha. Iya kami bergabung karena (mungkin) ada salah satu dari temen aku yang saling suka. Tapi itu lupakan aja lah.
Gak tau kenapa, setelah terbentuknya KBB kadang ada rasa rindu ingin saling kumpul, rindu bunyi line yang gak pernah berhenti berkicau sampai kadang bikin hape error, rindu makan2 gratis. Hahaha. Terima kasih KBB
Tapi gak kalah hebatnya, sahabat2 aku satu kos  ini (Yustin, Fira, Sarah, Yuniar,  Amita, Gina, Aya, Karin, Ina) juga super duper baik. Terima kasih atas perhatian-perhatian kalian yang kadang berlebihan -_-
Aku  kadang berpikir, apakah  persahabatan kita bakal kelal sampai kita jadi dokter ya? Sampai punya anak? Hahaha (berkhayal tinggi). Yaa aku sih berharap kita bakal terus seperti ini sampai tua. Aamiin.
sahabat KBB
Selain itu selama kuliah ini aku punya keluarga mentoring, yang akan mengisi kehausanku tentang agama. Ya, walaupun sudah kuliah ilmu agama tetap penting kan. Hahaha. Alhamdulillah, aku punya seorang kakak menti yang baik, sabar, cantik, apalagi yaa =D namanya Kak Atika. Berkat adanya mentoring ini aku selalu berusaha untuk terus meperbaiki diri untuk terus menjadi yang terbaik J
Bersyukur banget deh, aku dikelilingi oleh teman-teman yang super-super, yang selalu membuat aku semangat, dan selalu berjalan menuju kebaikan. Alhamdulillah